KOLOID
Untuk memenuhi pelajaran kimia
Disusun Oleh :
Ahmad Tamami
Galih Naufal azfar
Najiah Rahmatun Nisa
Siti Nurjannah
Yeni Mulyani
Kelas : XI IPA
3
MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 GARUT
Tahun Ajaran 2011/2012
A.
Pengertian
Koloid
Sistem
koloid adalah suatu bentuk campuran heterogen antara dua zat atau lebih yang
keadaannya terletak antara larutan dan suspensi (campuran kasar), Ukuran koloid berkisar antara 1-100 nm
(10,7 – 10,5cm). Sistem koloid ini mempunyai sifat-sifat
khas yang berbeda dari sifat larutan atau suspensi. Keadaan koloid bukan ciri
dari zat tertentu karena semua zat, baik padat, cair, maupun gas, dapat dibuat
dalam keadaan koloid.
Pada
tahun 1907 Ostwald mengemukakan istilah system terdispersi bagi zat yang
terdispersi dalam medium pendispersi. Di dalam larutan koloid secara umum, ada
2 zat sebagai berikut :
-
Zat terdispersi, yakni zat yang terlarut di dalam larutan koloid.
-
Zat pendispersi, yakni zat pelarut di dalam larutan koloid.
Berdasarkan ukuran
partikelnya, sistem dispersi dibedakan menjadi 3 kelompok :
1. Suspensi,
system dispersi dengan partikel yang berukuran relative besar tersebar merata
di dalam medium pendispersinya. Pada umumnya merupakan campuran heteroge
sehingga dapat diamati hanya dengan mata telanjang.
2. Larutan,
system dispersi dengan ukuran partikel sangat kecil sehingga tidak dapat
diamati (dibedakan) antara partikel pendispersi dengan partikel terdispersi.
3. Koloid,
system dispersi dengan ukuran partikel yang lebih besar dari larutan tetapi
lebih besar dari suspensi, dengan ukuran partikel antara 1nm-100nm.
Perbedaan umum antara Suspensi, Koloid,
dan Larutan.
|
Larutan
(Dispersi Molekuler)
|
Koloid
(Dispersi Koloid)
|
Suspensi
(Dispersi Kasar)
|
|
1.
Homogen,
tak dapat dibedakan
2.
Semua
partikel berdimensi < 1nm
3.
Satu
fasa
4.
Stabil
5.
Tidakdapat
disaring
Contoh : Larutan gula, larutan garam,
spiritus, alcohol 70%, larutan cuka, air laut, udara yang bersih, bensin.
|
1. Bersifat homogen tetapi jika
diamati dengan microsop ultra.
2. Partikel berdimensi antara 1nm
– 100nm.
3. Dua fasa.
4. Pada umumnya stabil.
5. Tidak dapat disaring kecuali
dengan penyaringan ultra.
Contoh : Sabun, susu, santan, jeli,
selai, mentega, dan mayones.
|
1.
Heterogen
2.
Salah
satu atau semua dimensi partikelnya besar dri 100nm.
3.
Dua
fasa
4.
Tidak
stabil.
5.
Dapat
disaring.
Contoh
: Air sungai
yang keruh, campuran air dengan pasir, campuran kopi dengan air, campuran
minyak dengan air.
|
B. Jenis-Jenis
Koloid
Berdasarkan jenis fasa terdispersi dan
fasa pendispersinya kolid dapat dibedakan menjadi sebagai berikut :
|
Fase
Terdispersi
|
Pendispersi
|
Nama
koloid
|
Contoh
|
|
|
Gas
|
Gas
|
Bukan
koloid, karena gas bercampur secara homogen
|
||
|
Gas
|
Cair
|
Busa
|
Buih,
sabun, ombak, krim kocok
|
|
|
Gas
|
Padat
|
Busa
padat
|
Batu
apung, kasur busa
|
|
|
Cair
|
Gas
|
Aerosol
cair
|
Obat
semprot, kabut, hair spray di udara
|
|
|
Cair
|
Cair
|
Emulsi
|
Air
santan, air susu, mayones
|
|
|
Cair
|
Padat
|
Gel
|
Mentega,
agar-agar
|
|
|
Padat
|
Gas
|
Aerosol
padat
|
Debu,
gas knalpot, asap
|
|
|
Padat
|
Cair
|
Sol
|
Cat,
tinta
|
|
|
Padat
|
Padat
|
Sol
Padat
|
Tanah,
kaca, lumpur
|
|
Berikut
adalah penjelasan mengenai beberapa jenis koloid yang banyak terdapat
dilingkungan kita :
1. Aerosol, system koloid dari
partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas. Jika zat yang terdispersi
berupa zat padat disebut aerosol padat, contohnya : asap dn debu dalam udara.
Jika zat yang terdispersi berupa zat cair disebut aerosol cair, contohnya kabut
dan awan.
2. Sol, system koloid dengan fase
terdispersi padat dalam medium pendispersi cair. Sol dibagi menjadi 2 macam,
yaitu sol liofil dan sol liofob.
a.
Sol
liofil, sol dengan fase terdispersi yang suka pada cairannya atau medium
pendispersinya. Pada umumnya kolid liofil terdiri atas zat-zat organic,
misalnya : lem karet, kanji dan sabun. Sol liofil dengan medium air disebut
hidrofil.
b.
Sol
liofob, anti (phobi) pada cairannya (pelarut). Sol liofob dengan medium air
disebut sol hidrofob atau koloid hirdrofob.
Perbedaan sol liofil dan liofob
|
Sol
Liofil
|
Sol
liofob
|
|
1. Stabil mantap
2. Terdiri atas zat organic
3. Kekentalannya tinggi
4. Sukar diendapkan oleh penambahan elektrolit
5.Kurang menunjukan gerak brown
6.Kurang menunjukan efek Tyndall
7.Dapat dibuat gel
8.Umumnya dibuat dengan cara disperse.
9.Partikel terdispersi mengabsorpsi molekul.
|
1. Kurang stabil
2.Terdiri atas zat anorganik
3.Kekentalannya rendah
4.Mudah diendapkan oleh penambahan elektrolit
5.Gerak brown sangat jelas
6.Menunjukan efek tyndall yang jelas
7.Tidak dapat dibuat gel
8.Dibuat dengan cara kondensasi
9.Partikel terdispersi mengabsorpsi ion.
|
3. Emulsi,
suatu sistem koloid yang fase terdispersinya dapat berupa zat padat, cair, dan
gas, tapi kebanyakan adalah zat cair (contohnya: air dengan minyak). Pada
umumnya emulsi kurang mantap, kemantapan emulsi dapat terlihat pada keadaannya
yang selalu keruh seperti; susu, santan, dsb. Untuk memantapkan emulsi
diperlukan zat pemantap yang disebut emulgator.
4. Gel, (koloid setengah kaku)
emulsi dalam medium pendispersi zat padat, dapat juga dianggap sebagai hasil
bentukkan dari penggumpalan sebagian sol cair. Partikel-partikel sol akan
bergabung untuk membentuk suatu rantai panjang pada proses penggumpalan ini.
Rantai tersebut akan saling bertaut sehingga membentuk suatu struktur padatan
di mana medium pendispersi cair terperangkap dalam lubang-lubang struktur tersebut.
Sehingga, terbentuklah suatu massa berpori yang semi-padat dengan struktur gel.
Ada dua jenis gel, yaitu:
a.
Gel elastis, Karena ikatan partikel pada
rantai adalah adalah gaya tarik-menarik yang relatif tidak kuat, sehingga gel
ini bersifat elastis. Gel elastis dapat dibuat dengan mendinginkan sol iofil
yang cukup pekat. Contoh gel elastis adalah gelatin dan sabun.
b. Gel
non-elestis, Karena
ikatan pada rantai berupa ikatan kovalen yang cukup kuat, maka
gel ini dapat bersifat non-elastis. Salah satu contoh gel ini adalah gel silica
yang dapat dibuat dengan reaksi kia; menambahkan HCl pekat ke dalam larutan
natrium silikat, sehingga molekul-molekul asam silikat yang terbentuk akan
terpolimerisasi dan membentuk gel silika.
Beberapa sifat gel yang penting adalah:
-
Hidrasi, Gel non-elastis yang terdehidrasi
tidak dapat diubah kembali ke bentuk awalanya, tetapi sebaliknya, gel elastis
yang terdehidrasi dapat diubah kembali menjadi gel elastis dengan menambahkan
zat cair.
-
Menggembung (swelling), Gel elastis yang
terdehidrasi sebagian akan menyerap air apabila dicelupkan ke dalam zat cair.
Sehingga volum gel akan bertambah dan menggembung.
-
Sineresis,
Gel anorganik akan mengerut bila dibiarkan dan diikuti penetesan pelarut, dan
proses ini disebut sineresis.
-
Tiksotropi, Beberapa gel dapat diubah kembali
menjadi sol cair apabila diberi agitasi atau diaduk. Sifat ini disebut
tiksotropi. Contohnya adalah gel besi oksida, perak oksida, dsb.
5. Buih,
koloid dengan fase terdisperasi gas dan medium pendisperasi zat cair atau zat
padat. Berdasarkan medium pendisperasinya, buih dikelompokkan menjadi dua,
yaitu:
a. Buih
Cair adalah sistem koloid dengan fase terdisperasi gas dan dengan medium
pendisperasi zat cair. Fase terdisperasi gas pada umumnya berupa udara atao
karbondioksida yang terbetuk dari fermentasi. Kestabilan buih dapat diperoleh
dari adanya zat pembuih (surfaktan). Beberapa sifat buih cair yang penting:
-
Struktur buih cair dapat berubah dengan
waktu, karena pemisahan medium pendispersi (zat cair) atau drainase, karena
kerapatan gas dan zat cair yang jauh berbeda,
-
terjadinya difusi gelembung gas yang
kecil ke gelembung gas yang besar akibat tegangan permukaan, sehingga ukuran
gelembung gas menjadi lebih besar,
-
rusaknya film antara dua gelembung gas.
Contoh buih cair:
-
Buih hasil kocokan putih telur, Karena
udara di sekitar putih telur akan teraduk dan menggunakan zat pembuih, yaitu
p[rotein dan glikoprotein yang berasal dari putih telur itu sendiri
untukmembentuk buih yang relative stabil. Sehingga putih telur yang dikocok
akan mengembang.
-
Buih hasil akibat pemadam kebakaran Alat
pemadam kebakaran mengandung campuran air, natrium bikarbonat, aluminium
sulfat, serta suatu zat pembuih. Karbondioksida yang dilepas akan membentuk
buih dengan bamtuam zat pembuih tersebut.
b. Buih
Padat, adalah sistem kolid dengan fase terdisperasi gas dan dengan medium
pendisperasi zat padat. Kestabilan buih ini dapat diperoleh dari zat pembuih
juga (surfaktan). Contoh-contoh buih padat yang mungkin kita ketahui:
-
Roti,
Proses peragian yang melepas gas karbondioksida terlibat dalam proses pembuatan
roti. Zat pembuih protein gluten dari tepung kemudian akan membentuk lapisan
tipis mengelilimgi gelembung-gelembung karbondioksida untuk membentuk buih
padat.
Roti,
Proses peragian yang melepas gas karbondioksida terlibat dalam proses pembuatan
roti. Zat pembuih protein gluten dari tepung kemudian akan membentuk lapisan
tipis mengelilimgi gelembung-gelembung karbondioksida untuk membentuk buih
padat.
-
Styrofoam memiliki fase terdisperasi
karbondioksida dan udara, serta medium pendisperasi polistirena.
C.
Sifat-sifat
koloid
1.
Efek Tyndall, ditemukan oleh
John Tyndall (1820-1893), seorang ahli fisika Inggris.Efek Tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar. Pada saat larutan sejati (gambar kiri) disinari dengan cahaya, maka
larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan pada sistem koloid (gambar
kanan), cahaya akan dihamburkan. hal itu terjadi karena partikel-partikel
koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif besar untuk dapat menghamburkan
sinar tersebut. Sebaliknya, pada larutan sejati,
partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit
dan sangat sulit diamati. Contoh: sinar
matahari yang dihamburkan partikel koloid di angkasa, hingga langit berwarna
biru pada siang hari dan jingga pada sore hari ; debu dalam ruangan akan
terlihat jika ada sinar masuk melalui celah.
Efek Tyndall, ditemukan oleh
John Tyndall (1820-1893), seorang ahli fisika Inggris.Efek Tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar. Pada saat larutan sejati (gambar kiri) disinari dengan cahaya, maka
larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan pada sistem koloid (gambar
kanan), cahaya akan dihamburkan. hal itu terjadi karena partikel-partikel
koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif besar untuk dapat menghamburkan
sinar tersebut. Sebaliknya, pada larutan sejati,
partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit
dan sangat sulit diamati. Contoh: sinar
matahari yang dihamburkan partikel koloid di angkasa, hingga langit berwarna
biru pada siang hari dan jingga pada sore hari ; debu dalam ruangan akan
terlihat jika ada sinar masuk melalui celah.
2. Gerak Brown adalah gerak partikel koloid dalam medium pendispersi
secara terus menerus, karena adanya tumbukan antara partikel zat terdispersi
dan zat pendispersi. Karena gerak aktif yang terus menerus ini, partikel koloid
tidak memisah jika didiamkan. Sistem koloid juga mempunyai sifat kinetik selain
sifat optic yang telah
dijelaskan
diatas. Sifat kinetik ini dapat terjadi karena
disebabkan
oleh gerakan termal dan gravitasi. Dua hal ini menyebabkan sistem koloid dapat bergerak zig-zag. Gerakan ini pertama
ditemukan oleh seorang ahli
biologi yang bernama Robert Brown yang melakukan pengamatan pada
serbuk sari dengan menggunakan mikroskop, sehingga dinamakan
gerak Brown.
Gerak Brown juga dipengaruhi oleh
suhu. Semakin tinggi suhu system koloid, maka semakin besar energi kinetic yang
dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown dari
partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. Demikian pula sebaliknya,
semakin rendah suhu system koloid, maka gerak Brown semakin lambat.
3. Adsorpsi koloid, peristiwa penyerapan muatan oleh permukaan-permukaan
partikel koloid. Apabila
partikel-partikel sol padat ditempatkan dalam zat cair atau gas, maka
pertikel-partikel zat cair atau gas
tersebut akan
terakumulasi pada permukaan zat padat tersebut. Fenomena ini disebut adsorpsi. Beda halnya dengan absorpsi. Absorpsi adalah fenomena menyerap
semua partikel ke dalam sol padat bukan di atas permukaannya, melainkan di
dalam sol padat tersebut.Partikel koloid sol memiliki kemampuan untuk
mengadsorpsi partikel-partikel pada permukaannya, baik partikel netral atau bermuatan (kation atau anion) karena mempunyai
permukaan yang sangat luas. Beberapa
contoh pemanfaatan sifat adsorbs koloid antara lain :
tersebut akan
terakumulasi pada permukaan zat padat tersebut. Fenomena ini disebut adsorpsi. Beda halnya dengan absorpsi. Absorpsi adalah fenomena menyerap
semua partikel ke dalam sol padat bukan di atas permukaannya, melainkan di
dalam sol padat tersebut.Partikel koloid sol memiliki kemampuan untuk
mengadsorpsi partikel-partikel pada permukaannya, baik partikel netral atau bermuatan (kation atau anion) karena mempunyai
permukaan yang sangat luas. Beberapa
contoh pemanfaatan sifat adsorbs koloid antara lain :
a.
Penyembuhan sakit perut (diare)
dengan serbuk karbon atau oralit.
b.
Penjernihan air dengan tawas.
c.
Penjernihan cairan tebu pada
pembuatan gula pasir menggunakan tanah diatome dan arang tulang agar warna gula
pasir menjadi putih.
4.
Elektroforensis, Peristiwa pemisahan partikel koloid yang
bermuatan dengan menggunakan arus listrik . Oleh karena partikel sol bermuatan
listrik, maka partikel ini akan bergerak dalam medan listrik. Pergerakan ini
disebut elektroforesis. Untuk lebih jelas, mari kita lihat
tabung berikut di samping.
Elektroforensis, Peristiwa pemisahan partikel koloid yang
bermuatan dengan menggunakan arus listrik . Oleh karena partikel sol bermuatan
listrik, maka partikel ini akan bergerak dalam medan listrik. Pergerakan ini
disebut elektroforesis. Untuk lebih jelas, mari kita lihat
tabung berikut di samping.
Pada gambar, terlihat bahwa partikel-partikel koloid
bermuatan positif tersebut bergerak menuju elektrode dengan muatan berlawanan,
yaitu elektrode negatif. Jika sistem koloid bermuatan negatif,
maka partikel itu akan menuju elektrode positif.
Pada kedua elektroda ini partikel koloid akan dinetralkan.
5. Koagulasi, penggumpalan koloid
karena elektrolit yang muatannya berlawanan. Contoh: kotoran pada air yang
digumpalkan oleh tawas sehingga air menjadi jernih. Faktor-faktor yang menyebabkan koagulasi:
-
Perubahan suhu.
-
Pengadukan.
-
Penambahan ion dengan muatan besar (contoh:
tawas).
-
Pencampuran koloid positif dan koloid negatif.
Koloid akan mengalami koagulasi dengan cara:
1.
Mekanik, cara
mekanik dilakukan dengan
pemanasan, pendinginan atau pengadukan cepat.
2.
Kimia, dengan
penambahan elektrolit (asam, basa, atau garam). Contoh:
-
susu + sirup masam = menggumpal
-
lumpur + tawas =
menggumpal
-
Dengan mencampurkan 2 macam koloid
dengan muatan yang berlawanan. Contoh: Fe(OH)3 yang
bermuatan positif
akan menggumpal jika dicampur As2S3 yang
bermuatan negatif.
Koagulasi atau pengendapan/penggumpalan yang disebabkan oleh gaya
gravitasi akan terjadi jika sistem koloid dalam keadaan tidak bermuatan. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan koloid bersifat netral, yaitu:
-
Menggunakan Prinsip Elektroforesis. Proses elektroforesis
adalah pergerakan partikel-partikel koloid yang bermuatan ke
elektrode
dengan muatan yang berlawanan. Ketika partikel ini mencapai
elektrode, maka sistem koloid akan kehilangan muatannya dan
bersifat netral.
-
Penambahan koloid lain dengan muatan yang
berlawanan. Ketika koloid bermuatan positif dicampurkan dengan koloid bermuatan
negatif, maka muatan tersebut akan saling menghilangkan dan bersifat netral.
-
Penambahan Elektrolit. Jika suatu elektrolit
ditambahkan pada sistem koloid, maka partikel koloid yang bermuatan negatif
akan mengadsorpsi koloid dengan muatan positif (kation) dari elektrolit. Begitu
juga sebaliknya, partikel positif akan mengadsorpsi partikel negatif (anion)
dari elektrolit. Dari adsorpsi diatas, maka terjadi koagulasi.
-
Pendidihan. Kenaikan suhu sistem koloid
menyebabkan tumbukan antar partikel-partikel sol dengan molekul-molekul air
bertambah banyak. Hal ini melepaskan elektrolit yang teradsorpsi pada permukaan
koloid. Akibatnya partikel tidak bermuatan.
Contoh
koagulasi dalam kehidupan sehari-hari :
a.
Pembentukan
delta di muara sungai, karena tanah liat dalam air sungai mengalami koagulasi
ketika bercampur dengan elektrolit dalam air laut.
b.
Karet
dalam latex digunakan dengan menambahkan asam formiat.
c.
Lumpur
koloidal dalam air sungai digumpalkan dengan tawas
d.
Asap
dan debu dari pabrk digumpalkan dengan alat koagulasi listrik dari cottrel.
D.
Kestabilan Koloid
1. Koloid pelindung, Sistem koloid di mana partikel
terdispersinya mempunyai daya adsorpsi relatif besar disebut koloid liofil yang
bersifat lebih stabil. Sedangkan jika partikel terdispersinya mempunyai gaya
absorpsi yang cukup kecil, maka disebut koloid liofob yang bersifat kurang
stabil. Yang berfungsi sebagai koloid pelindung ialah koloid liofil. Sol liofob/ hidrofob mudah terkoagulasi
dengan sedikit penambahan elektrolit, tetapi menjadi lebih stabil jika
ditambahkan koloid pelindung yaiut koloid liofil. Berikut ini penjelasan yang lebih lengkap mengenai koloid
liofil dan liofob:
-
Koloid liofil (suka cairan) adalah
koloid di mana terdapat gaya tarik-menarik yang cukup besar antara fase
terdispersi dan medium pendispersi. Contoh, disperse kanji, sabun, deterjen.
-
Koloid liofob (tidak suka cairan)
adalah koloid di mana terdapat gaya tarik-menarik yang lemah atau bahkan tidak
ada sama sekali antar fase terdispersi dan medium pendispersinya. Contoh,
dispersi emas, belerang dalam air.
|
Sifat-Sifat
|
Sol
Liofil
|
Sol
Liofob
|
|
Pembuatan
|
Dapat
dibuat langsung dengan mencampurkan fase terdispersi dengan medium
terdispersinya
|
Tidak
dapat dibuat hanya dengan mencampur fase terdispersi dan medium pendisperinya
|
|
Muatan
partikel
|
Mempunyai
muatan yang kecil atau tidak bermuatan
|
Memiliki
muatan positif atau negative
|
|
Adsorpsi
medium pendispersi
|
Partikel-partikel
sol liofil mengadsorpsi medium pendispersinya. Terdapat proses solvasi/
hidrasi, yaitu terbentuknya lapisan medium pendispersi yang teradsorpsi di
sekeliling partikel sehingga menyebabkan partikel sol liofil tidak saling
bergabung
|
Partikel-partikel
sol liofob tidak mengadsorpsi medium pendispersinya. Muatan partikel
diperoleh dari adsorpsi partikel-partikel ion yang bermuatan listrik
|
|
Viskositas
(kekentalan)
|
Viskositas
sol liofil > viskositas medium pendispersi
|
Viskositas
sol hidrofob hampir sama dengan viskositas medium pendispersi
|
|
Penggumpalan
|
Tidak
mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit
|
Mudah
menggumpal dengan penambahan elektrolit karena mempunyai muatan.
|
|
Sifat
reversibel
|
Reversibel,
artinya fase terdispersi sol liofil dapat dipisahkan dengan koagulasi,
kemudian dapat diubah kembali menjadi sol dengan penambahan medium
pendispersinya.
|
Irreversibel
artinya sol liofob yang telah menggumpal tidak dapat diubah menjadi sol
|
|
Efek
Tyndall
|
Memberikan
efek Tyndall yang lemah
|
Memberikan
efek Tyndall yang jelas
|
|
Migrasi
dalam medan listrik
|
Dapat
bermigrasi ke anode, katode, atau tidak bermigrasi sama sekali
|
Akan
bergerak ke anode atau katode, tergantung jenis muatan partikel
|

2. Dialisis,
pemisahan koloid dari ion-ion pengganggu. Pergerakan ion-ion dan molekul kecil
melalui selaput semipermeabel (yang tidak dapat dilalui partikel koloid)
disebut diasis. Percobaannya dengan menaruh sistem koloid pada selaput
semipermeabel, lalu menaruhnya di air. Zat yang terlarut di dalam air kemudian
akan keluar dari selaput itu, sedangkan system koloid tidak. Lalu air dialirkan
sehingga mengambil zat-zat yang terlarut.
E.
Pembuatan
sistem koloid
1.
Cara Kondensasi, Pembuatan
sistem koloid dengan
cara kondensasi dilakukan dengan cara
penggumpalan
partikel yang sangat kecil. Penggumpalan
partikel ini dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut:
a.
Reaksi Pengendapan
Pembuatan sistem koloid dengan cara ini dilakukan dengan mencampurkan larutan elektrolit sehingga menghasilkan endapan. Contoh: AgNO3 + NaCl AgCl(s) + NaNO3
b.
Reaksi Hidrolisis
Reaksi hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air. Sistem koloid dapat dibuat dengan mereaksikan suatu zat dengan air. Contoh: AlCl3 +H2O Al(OH)3(s) +
HCl
c.
Reaksi Redoks
Pembuatan koloid dapat terbentuk dari hasil reaksi redoks. Contoh:
pada larutan emas Reaksi: AuCl3 + HCOH Au + HCl + HCOOH Emas formaldehid
d.
Reaksi Pergeseran
Contoh: pembuatan sol As2S3 dengan cara
mengalirkan gas H2S ke
dalam laruatn H3AsO3 encer pada suhu tertentu. Reaksi: 2 H3AsO3 + 3 H2S 6 H2O
+ As2S3
e.
Reaksi Pergantian Pelarut
Contoh: pembuatan gel kalsium asetat dengan cara menambahkan alkohol
96% ke dalam larutan kalsium asetat jenuh.
2.
Cara Dispersi
Pembuatan sistem koloid dengan cara dispersi dilakukan dengan memperkecil partikel suspensi yang terlalu besar menjadi
partikel koloid, pemecahan partikel-partikel kasar menjadi koloid.
a.
Cara Mekanik
Ukuran partikel suspensi diperkecil dengan cara penggilingan zat
padat, dengan menghaluskan butiran besar kemudian diaduk dalam medium pendispersi. Contoh: Gumpalan tawas digiling,dicampurkan ke dalam air akan membentuk koloid dengan kotoran air.
Membuat tinta dengan menghaluskan karbon pada penggiling
koloid kemudian didispersikan dalam air.
Membuat
sol belerang dengan menghaluskan
belerang bersama gula (1:1) pada penggiling
koloid, kemudian dilarutkan dalam air, gula akan
larut
dan
belerang menjadi sol.
belerang menjadi sol.
b.
Cara Peptisasi
Pembuatan koloid dengan cara peptisasi adalah pembuatan koloid dengan menambahkan ion sejenis, sehingga partikel endapan akan dipecah. Contoh: sol Fe(OH)3 dengan menambahkan
FeCl3. sol NiS dengan menambahkan H2S. Karet
dipeptisasi oleh bensin,agar-agar dipeptisasi oleh air, endapan Al(OH)3 dipeptisasi oleh AlCl3.
c.
Cara Busur Bredia/Bredig
Cara Busur Bredia/Bredig
Pembuatan koloid dengan cara busur Bredia/Bredig dilakukan dengan mencelupkan 2 kawat logam
(elektroda) yang dialiri listrik ke dalam air, sehingga kawat logam akan
membentuk partikel koloid
berupa debu di dalam air.
d.
Cara Ultrasonik
Yaitu penghancuran butiran besar dengan ultrasonik(frekuensi > 20.000Hz) Campuran
heterogen.
Campuran homogen disebut larutan, contoh larutan
gula dalam air. Campuran heterogen dapat dibedakan menjadi 2
macam, yaitu: Sistem koloid termasuk
dalam bentuk campuran. Campuran terbagi menjadi
2, yaitu:
Suspensi, contoh: pasir dalam air. Dan Koloid, contoh: susu dengan air.
F. Komponen Penyusun Koloid
1. Fase kontinyu : medium
pendispersi jumlahnya lebih banyak.
2. Fase diskontinyu : medium
terdispersi jumlahnya labih banyak.
G.
Bentuk Partikel Koloid
1. Bulatan : misalnya virus, silika.
2. Batang : misalnya virus.
3. Piringan : misalnya globulin
dalam darah.
4. Serat : misalnya selulosa.
H. Penggunaan Sistem Koloid
1. Obat-obatan : salep, krim, minyak
ikan.
2. Makanan : es krim, jelly dan
agar-agar.
3. Kosmetik : hair cream, skin
spray, body lotion.
4. Industri : tinta, cat.
Evaluasi
|
1
|
|||||||||||||||||||
|
4
|
|||||||||||||||||||
|
2
|
11
|
||||||||||||||||||
|
15
|
|||||||||||||||||||
|
3
|
8
|
14
|
|||||||||||||||||
|
6
|
|||||||||||||||||||
|
9
|
10
|
||||||||||||||||||
|
12
|
13
|
17
|
|||||||||||||||||
|
5
|
18
|
||||||||||||||||||
|
7
|
|||||||||||||||||||
|
16
|
|||||||||||||||||||
|
19
|
|||||||||||||||||||
|
Mendatar :
|
Menurun :
|
|
1.
Penggumpalan
2.
Koloid setengah kaku
3.
Dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas
5.
Mengubah partikel sejati menjadi partikel koloid
7.
Reaksi yang disertai bilangan oksidasi
9.
Jenis Koloid
12.
Pemisah koloid dari ion-ion pengganngu
14.
Contoh aerosol padat
16.
Gas yang terdispersi dalam zat cair
19.
Contoh proses dialysis dibidang kedokteran
|
1.
Koloid (Yunani)
4.
Perancang alat cottrel
6.
Dispersi kasar
8.
Fase terdispersi padat dalam medium
pendispersi cair
10.
Salahsatu cara disperse
11.
Istilah yang diutarakan Thomas Graham
13.
Sifat koloid
15.
Penggumpal lumpul koloidal dalam air sungai
17.
Dapat dibuat gel
18.
Dispersi Molekuler
|
Jawaban :
|
Mendatar
:
|
Menurun
:
|
|
1.
Koagulasi
2.
Gel
3.
Aerosol
5.
Kondensasi
7.
Redoks
9.
Emulsi
12.
Asap
14.
Dialisis
16.
Buih
19.
Hemodialisis
|
1.
Kolia
4.
Frederick
6.
Suspensi
8.
Sol
10.
Mekanisme
11.
Koloid
13.
Adsorbsi
15.
Tawas
17.
Sol Liofil
18.
Larutan
|
