Kamis, 17 Mei 2012


KOLOID
Untuk memenuhi pelajaran kimia

















Disusun Oleh            :

Ahmad Tamami
Galih Naufal azfar
Najiah Rahmatun Nisa
Siti Nurjannah
Yeni Mulyani


Kelas : XI IPA 3



MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 GARUT
Tahun Ajaran 2011/2012

A.    Pengertian Koloid
Sistem koloid adalah suatu bentuk campuran heterogen antara dua zat atau lebih yang keadaannya terletak antara larutan dan suspensi (campuran kasar), Ukuran koloid berkisar antara 1-100 nm (10,7 – 10,5cm). Sistem koloid ini mempunyai sifat-sifat khas yang berbeda dari sifat larutan atau suspensi. Keadaan koloid bukan ciri dari zat tertentu karena semua zat, baik padat, cair, maupun gas, dapat dibuat dalam keadaan koloid.
Pada tahun 1907 Ostwald mengemukakan istilah system terdispersi bagi zat yang terdispersi dalam medium pendispersi. Di dalam larutan koloid secara umum, ada 2 zat sebagai berikut :
- Zat terdispersi, yakni zat yang terlarut di dalam larutan koloid.
- Zat pendispersi, yakni zat pelarut di dalam larutan koloid.
                        Berdasarkan ukuran partikelnya, sistem dispersi dibedakan menjadi 3 kelompok :
1.      Suspensi, system dispersi dengan partikel yang berukuran relative besar tersebar merata di dalam medium pendispersinya. Pada umumnya merupakan campuran heteroge sehingga dapat diamati hanya dengan mata telanjang.
2.      Larutan, system dispersi dengan ukuran partikel sangat kecil sehingga tidak dapat diamati (dibedakan) antara partikel pendispersi dengan partikel terdispersi.
3.      Koloid, system dispersi dengan ukuran partikel yang lebih besar dari larutan tetapi lebih besar dari suspensi, dengan ukuran partikel antara 1nm-100nm.
Perbedaan umum antara Suspensi, Koloid, dan Larutan.
Larutan
(Dispersi Molekuler)
Koloid
(Dispersi Koloid)
Suspensi
(Dispersi Kasar)
1.    Homogen, tak dapat dibedakan
2.    Semua partikel berdimensi < 1nm
3.    Satu fasa
4.    Stabil
5.    Tidakdapat disaring



Contoh : Larutan gula, larutan garam, spiritus, alcohol 70%, larutan cuka, air laut, udara yang bersih, bensin.
1.  Bersifat homogen tetapi jika diamati dengan microsop ultra.
2.  Partikel berdimensi antara 1nm – 100nm.
3.  Dua fasa.
4.  Pada umumnya stabil.
5.  Tidak dapat disaring kecuali dengan penyaringan ultra.

Contoh : Sabun, susu, santan, jeli, selai, mentega, dan mayones.
1.     Heterogen
2.     Salah satu atau semua dimensi partikelnya besar dri 100nm.
3.     Dua fasa
4.     Tidak stabil.
5.     Dapat disaring.



Contoh : Air sungai yang keruh, campuran air dengan pasir, campuran kopi dengan air, campuran minyak dengan air.










B.     Jenis-Jenis Koloid
Berdasarkan jenis fasa terdispersi dan fasa pendispersinya kolid dapat dibedakan menjadi sebagai berikut :
Fase Terdispersi
Pendispersi
Nama koloid
Contoh
Gas
Gas
Bukan koloid, karena gas bercampur secara homogen
Gas
Cair
Busa
Buih, sabun, ombak, krim kocok
Gas
Padat
Busa padat
Batu apung, kasur busa
Cair
Gas
Aerosol cair
Obat semprot, kabut, hair spray di udara
Cair
Cair
Emulsi
Air santan, air susu, mayones
Cair
Padat
Gel
Mentega, agar-agar
Padat
Gas
Aerosol padat
Debu, gas knalpot, asap
Padat
Cair
Sol
Cat, tinta
Padat
Padat
Sol Padat
Tanah, kaca, lumpur

Berikut adalah penjelasan mengenai beberapa jenis koloid yang banyak terdapat dilingkungan kita :
1.    Aerosol, system koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas. Jika zat yang terdispersi berupa zat padat disebut aerosol padat, contohnya : asap dn debu dalam udara. Jika zat yang terdispersi berupa zat cair disebut aerosol cair, contohnya kabut dan awan.
2.    Sol, system koloid dengan fase terdispersi padat dalam medium pendispersi cair. Sol dibagi menjadi 2 macam, yaitu sol liofil dan sol liofob.
a.       Sol liofil, sol dengan fase terdispersi yang suka pada cairannya atau medium pendispersinya. Pada umumnya kolid liofil terdiri atas zat-zat organic, misalnya : lem karet, kanji dan sabun. Sol liofil dengan medium air disebut hidrofil.
b.      Sol liofob, anti (phobi) pada cairannya (pelarut). Sol liofob dengan medium air disebut sol hidrofob atau koloid hirdrofob.
Perbedaan sol liofil dan liofob
Sol Liofil
Sol liofob
1. Stabil mantap
2. Terdiri atas zat organic
3. Kekentalannya tinggi
4. Sukar diendapkan oleh penambahan elektrolit
5.Kurang menunjukan gerak brown
6.Kurang menunjukan efek Tyndall
7.Dapat dibuat gel
8.Umumnya dibuat dengan cara disperse.
9.Partikel terdispersi mengabsorpsi molekul.
1. Kurang stabil
2.Terdiri atas zat anorganik
3.Kekentalannya rendah
4.Mudah diendapkan oleh penambahan elektrolit
5.Gerak brown sangat jelas
6.Menunjukan efek tyndall yang jelas
7.Tidak dapat dibuat gel
8.Dibuat dengan cara kondensasi
9.Partikel terdispersi mengabsorpsi ion.

3.    Emulsi, suatu sistem koloid yang fase terdispersinya dapat berupa zat padat, cair, dan gas, tapi kebanyakan adalah zat cair (contohnya: air dengan minyak). Pada umumnya emulsi kurang mantap, kemantapan emulsi dapat terlihat pada keadaannya yang selalu keruh seperti; susu, santan, dsb. Untuk memantapkan emulsi diperlukan zat pemantap yang disebut emulgator.
4.    Gel, (koloid setengah kaku) emulsi dalam medium pendispersi zat padat, dapat juga dianggap sebagai hasil bentukkan dari penggumpalan sebagian sol cair. Partikel-partikel sol akan bergabung untuk membentuk suatu rantai panjang pada proses penggumpalan ini. Rantai tersebut akan saling bertaut sehingga membentuk suatu struktur padatan di mana medium pendispersi cair terperangkap dalam lubang-lubang struktur tersebut. Sehingga, terbentuklah suatu massa berpori yang semi-padat dengan struktur gel. Ada dua jenis gel, yaitu:
a.       Gel elastis, Karena ikatan partikel pada rantai adalah adalah gaya tarik-menarik yang relatif tidak kuat, sehingga gel ini bersifat elastis. Gel elastis dapat dibuat dengan mendinginkan sol iofil yang cukup pekat. Contoh gel elastis adalah gelatin dan sabun.
b.      Gel non-elestis, Karena ikatan pada rantai berupa ikatan kovalen yang cukup kuat, maka gel ini dapat bersifat non-elastis. Salah satu contoh gel ini adalah gel silica yang dapat dibuat dengan reaksi kia; menambahkan HCl pekat ke dalam larutan natrium silikat, sehingga molekul-molekul asam silikat yang terbentuk akan terpolimerisasi dan membentuk gel silika.
Beberapa sifat gel yang penting adalah:
-       Hidrasi, Gel non-elastis yang terdehidrasi tidak dapat diubah kembali ke bentuk awalanya, tetapi sebaliknya, gel elastis yang terdehidrasi dapat diubah kembali menjadi gel elastis dengan menambahkan zat cair.
-       Menggembung (swelling), Gel elastis yang terdehidrasi sebagian akan menyerap air apabila dicelupkan ke dalam zat cair. Sehingga volum gel akan bertambah dan menggembung.
-        Sineresis, Gel anorganik akan mengerut bila dibiarkan dan diikuti penetesan pelarut, dan proses ini disebut sineresis.
-       Tiksotropi, Beberapa gel dapat diubah kembali menjadi sol cair apabila diberi agitasi atau diaduk. Sifat ini disebut tiksotropi. Contohnya adalah gel besi oksida, perak oksida, dsb.
5.    Buih, koloid dengan fase terdisperasi gas dan medium pendisperasi zat cair atau zat padat. Berdasarkan medium pendisperasinya, buih dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
a.      Buih Cair adalah sistem koloid dengan fase terdisperasi gas dan dengan medium pendisperasi zat cair. Fase terdisperasi gas pada umumnya berupa udara atao karbondioksida yang terbetuk dari fermentasi. Kestabilan buih dapat diperoleh dari adanya zat pembuih (surfaktan). Beberapa sifat buih cair yang penting:
-       Struktur buih cair dapat berubah dengan waktu, karena pemisahan medium pendispersi (zat cair) atau drainase, karena kerapatan gas dan zat cair yang jauh berbeda,
-       terjadinya difusi gelembung gas yang kecil ke gelembung gas yang besar akibat tegangan permukaan, sehingga ukuran gelembung gas menjadi lebih besar,
-       rusaknya film antara dua gelembung gas.

Contoh buih cair:
-       Buih hasil kocokan putih telur, Karena udara di sekitar putih telur akan teraduk dan menggunakan zat pembuih, yaitu p[rotein dan glikoprotein yang berasal dari putih telur itu sendiri untukmembentuk buih yang relative stabil. Sehingga putih telur yang dikocok akan mengembang.
-       Buih hasil akibat pemadam kebakaran Alat pemadam kebakaran mengandung campuran air, natrium bikarbonat, aluminium sulfat, serta suatu zat pembuih. Karbondioksida yang dilepas akan membentuk buih dengan bamtuam zat pembuih tersebut.
b.      Buih Padat, adalah sistem kolid dengan fase terdisperasi gas dan dengan medium pendisperasi zat padat. Kestabilan buih ini dapat diperoleh dari zat pembuih juga (surfaktan). Contoh-contoh buih padat yang mungkin kita ketahui:
-       http://photos1.blogger.com/blogger/67/2674/320/CA94HO53.0.jpgRoti, Proses peragian yang melepas gas karbondioksida terlibat dalam proses pembuatan roti. Zat pembuih protein gluten dari tepung kemudian akan membentuk lapisan tipis mengelilimgi gelembung-gelembung karbondioksida untuk membentuk buih padat.
-       http://photos1.blogger.com/blogger/67/2674/320/CA8QEASX.jpgBatu apung, Dari proses solidifikasi gelas vulkanik, maka terbentuklah batu apung.
-       Styrofoam memiliki fase terdisperasi karbondioksida dan udara, serta medium pendisperasi polistirena.

C.     Sifat-sifat koloid
1.      http://sistemkoloid.tripod.com/tyndall.bmpEfek Tyndall, ditemukan oleh John Tyndall (1820-1893), seorang ahli fisika Inggris.Efek Tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar. Pada saat larutan sejati (gambar kiri) disinari dengan cahaya, maka larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan pada sistem koloid (gambar kanan), cahaya akan dihamburkan. hal itu terjadi karena partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya, pada larutan sejati, partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati. Contoh: sinar matahari yang dihamburkan partikel koloid di angkasa, hingga langit berwarna biru pada siang hari dan jingga pada sore hari ; debu dalam ruangan akan terlihat jika ada sinar masuk melalui celah.
2.      Gerak Brown adalah gerak partikel koloid dalam medium pendispersi secara terus menerus, karena adanya tumbukan antara partikel zat terdispersi dan zat pendispersi. Karena gerak aktif yang terus menerus ini, partikel koloid tidak memisah jika didiamkan. Sistem koloid juga mempunyai sifat kinetik selain sifat optic yang        telah dijelaskan diatas. Sifat kinetik ini dapat terjadi karena disebabkan oleh gerakan termal dan gravitasi. Dua hal ini menyebabkan sistem koloid dapat bergerak zig-zag. Gerakan ini  pertama ditemukan oleh seorang ahli biologi yang bernama Robert Brown yang melakukan pengamatan pada serbuk sari dengan menggunakan mikroskop, sehingga dinamakan gerak Brown. Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu system koloid, maka semakin besar energi kinetic yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu system koloid, maka gerak Brown semakin lambat.
3.      Adsorpsi koloid, peristiwa penyerapan muatan oleh permukaan-permukaan partikel koloid. Apabila partikel-partikel sol padat ditempatkan dalam zat cair atau gas, maka pertikel-partikel zat cair atau gas http://sistemkoloid.tripod.com/adsorpsi.giftersebut akan terakumulasi pada permukaan zat padat tersebut. Fenomena ini disebut adsorpsi. Beda halnya dengan absorpsi. Absorpsi adalah fenomena menyerap semua partikel ke dalam sol padat bukan di atas permukaannya, melainkan di dalam sol padat tersebut.Partikel koloid sol memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi partikel-partikel pada permukaannya, baik partikel netral atau bermuatan (kation atau anion) karena mempunyai permukaan yang sangat luas. Beberapa contoh pemanfaatan sifat adsorbs koloid antara lain :
a.       Penyembuhan sakit perut (diare) dengan serbuk karbon atau oralit.
b.      Penjernihan air dengan tawas.
c.       Penjernihan cairan tebu pada pembuatan gula pasir menggunakan tanah diatome dan arang tulang agar warna gula pasir menjadi putih.
4.      http://sistemkoloid.tripod.com/elektroforesis.jpgElektroforensis, Peristiwa pemisahan partikel koloid yang bermuatan dengan menggunakan arus listrik . Oleh karena partikel sol bermuatan listrik, maka partikel ini akan bergerak dalam medan listrik. Pergerakan ini disebut elektroforesis. Untuk lebih jelas, mari kita lihat tabung berikut di samping.
Pada gambar, terlihat bahwa partikel-partikel koloid bermuatan positif tersebut bergerak menuju elektrode dengan muatan berlawanan, yaitu elektrode negatif. Jika sistem koloid bermuatan negatif, maka partikel itu akan menuju elektrode positif. Pada kedua elektroda ini partikel koloid akan dinetralkan. 
5.      Koagulasi, penggumpalan koloid karena elektrolit yang muatannya berlawanan. Contoh: kotoran pada air yang digumpalkan oleh tawas sehingga air menjadi jernih. Faktor-faktor yang menyebabkan koagulasi:
-       Perubahan suhu.
-       Pengadukan.
-       Penambahan ion dengan muatan besar (contoh: tawas).
-       Pencampuran koloid positif dan koloid negatif.


Koloid akan mengalami koagulasi dengan cara:
1.    Mekanik, cara mekanik dilakukan dengan pemanasan, pendinginan atau pengadukan cepat.
2.    Kimia, dengan penambahan elektrolit (asam, basa, atau garam). Contoh:
-       susu + sirup masam = menggumpal
-       lumpur + tawas = menggumpal
-       Dengan mencampurkan 2 macam koloid dengan muatan yang berlawanan. Contoh: Fe(OH)3 yang bermuatan positif akan menggumpal jika dicampur As2S3 yang bermuatan negatif.

http://sistemkoloid.tripod.com/koagulasi.jpgKoagulasi atau pengendapan/penggumpalan yang disebabkan oleh gaya gravitasi akan terjadi jika sistem koloid dalam keadaan tidak bermuatan. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan koloid bersifat netral, yaitu:
- Menggunakan Prinsip Elektroforesis. Proses elektroforesis adalah pergerakan partikel-partikel koloid yang bermuatan ke elektrode dengan muatan yang berlawanan. Ketika partikel ini mencapai elektrode, maka sistem koloid akan kehilangan muatannya dan bersifat netral.
- Penambahan koloid lain dengan muatan yang berlawanan. Ketika koloid bermuatan positif dicampurkan dengan koloid bermuatan negatif, maka muatan tersebut akan saling menghilangkan dan bersifat netral.
- Penambahan Elektrolit. Jika suatu elektrolit ditambahkan pada sistem koloid, maka partikel koloid yang bermuatan negatif akan mengadsorpsi koloid dengan muatan positif (kation) dari elektrolit. Begitu juga sebaliknya, partikel positif akan mengadsorpsi partikel negatif (anion) dari elektrolit. Dari adsorpsi diatas, maka terjadi koagulasi.
- Pendidihan. Kenaikan suhu sistem koloid menyebabkan tumbukan antar partikel-partikel sol dengan molekul-molekul air bertambah banyak. Hal ini melepaskan elektrolit yang teradsorpsi pada permukaan koloid. Akibatnya partikel tidak bermuatan.
Contoh koagulasi dalam kehidupan sehari-hari :
a.       Pembentukan delta di muara sungai, karena tanah liat dalam air sungai mengalami koagulasi ketika bercampur dengan elektrolit dalam air laut.
b.      Karet dalam latex digunakan dengan menambahkan asam formiat.
c.       Lumpur koloidal dalam air sungai digumpalkan dengan tawas
d.      Asap dan debu dari pabrk digumpalkan dengan alat koagulasi listrik dari cottrel.

D.    Kestabilan Koloid
1.     Koloid pelindung, Sistem koloid di mana partikel terdispersinya mempunyai daya adsorpsi relatif besar disebut koloid liofil yang bersifat lebih stabil. Sedangkan jika partikel terdispersinya mempunyai gaya absorpsi yang cukup kecil, maka disebut koloid liofob yang bersifat kurang stabil. Yang berfungsi sebagai koloid pelindung ialah koloid liofil. Sol liofob/ hidrofob mudah terkoagulasi dengan sedikit penambahan elektrolit, tetapi menjadi lebih stabil jika ditambahkan koloid pelindung yaiut koloid liofil. Berikut ini penjelasan yang lebih lengkap mengenai koloid liofil dan liofob: 
-       Koloid liofil (suka cairan) adalah koloid di mana terdapat gaya tarik-menarik yang cukup besar antara fase terdispersi dan medium pendispersi. Contoh, disperse kanji, sabun, deterjen.
-       Koloid liofob (tidak suka cairan) adalah koloid di mana terdapat gaya tarik-menarik yang lemah atau bahkan tidak ada sama sekali antar fase terdispersi dan medium pendispersinya. Contoh, dispersi emas, belerang dalam air.
Sifat-Sifat
Sol Liofil
Sol Liofob
Pembuatan
Dapat dibuat langsung dengan mencampurkan fase terdispersi dengan medium terdispersinya
Tidak dapat dibuat hanya dengan mencampur fase terdispersi dan medium pendisperinya
Muatan partikel
Mempunyai muatan yang kecil atau tidak bermuatan
Memiliki muatan positif atau negative
Adsorpsi medium pendispersi
Partikel-partikel sol liofil mengadsorpsi medium pendispersinya. Terdapat proses solvasi/ hidrasi, yaitu terbentuknya lapisan medium pendispersi yang teradsorpsi di sekeliling partikel sehingga menyebabkan partikel sol liofil tidak saling bergabung
Partikel-partikel sol liofob tidak mengadsorpsi medium pendispersinya. Muatan partikel diperoleh dari adsorpsi partikel-partikel ion yang bermuatan listrik
Viskositas (kekentalan)
Viskositas sol liofil > viskositas medium pendispersi
Viskositas sol hidrofob hampir sama dengan viskositas medium pendispersi
Penggumpalan
Tidak mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit
Mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit karena mempunyai muatan.
Sifat reversibel
Reversibel, artinya fase terdispersi sol liofil dapat dipisahkan dengan koagulasi, kemudian dapat diubah kembali menjadi sol dengan penambahan medium pendispersinya.
Irreversibel artinya sol liofob yang telah menggumpal tidak dapat diubah menjadi sol
Efek Tyndall
Memberikan efek Tyndall yang lemah
Memberikan efek Tyndall yang jelas
Migrasi dalam medan listrik
Dapat bermigrasi ke anode, katode, atau tidak bermigrasi sama sekali
Akan bergerak ke anode atau katode, tergantung jenis muatan partikel



















http://sistemkoloid.tripod.com/dialisis.jpg
2.     Dialisis, pemisahan koloid dari ion-ion pengganggu. Pergerakan ion-ion dan molekul kecil melalui selaput semipermeabel (yang tidak dapat dilalui partikel koloid) disebut diasis. Percobaannya dengan menaruh sistem koloid pada selaput semipermeabel, lalu menaruhnya di air. Zat yang terlarut di dalam air kemudian akan keluar dari selaput itu, sedangkan system koloid tidak. Lalu air dialirkan sehingga mengambil zat-zat yang terlarut.

E.     Pembuatan sistem koloid
1.      Cara Kondensasi, Pembuatan sistem koloid dengan cara kondensasi dilakukan dengan cara penggumpalan partikel yang sangat kecil. Penggumpalan partikel ini dapat  dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a.       Reaksi Pengendapan
Pembuatan sistem koloid dengan cara ini dilakukan dengan mencampurkan larutan elektrolit sehingga menghasilkan endapan. Contoh: AgNO3 + NaCl  AgCl(s) + NaNO3
b.      Reaksi Hidrolisis
Reaksi hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air. Sistem koloid dapat dibuat dengan mereaksikan suatu zat dengan air. Contoh: AlCl3 +H2O  Al(OH)3(s) + HCl
c.       Reaksi Redoks
Pembuatan koloid dapat terbentuk dari hasil reaksi redoks. Contoh: pada larutan emas Reaksi: AuCl3 + HCOH  Au + HCl + HCOOH Emas formaldehid
d.      Reaksi Pergeseran
Contoh: pembuatan sol As2S3 dengan cara mengalirkan gas H2S      ke dalam laruatn H3AsO3 encer pada suhu tertentu. Reaksi: 2 H3AsO3 + 3 H2S  6 H2O + As2S3
e.       Reaksi Pergantian Pelarut
Contoh: pembuatan gel kalsium asetat dengan cara   menambahkan alkohol 96% ke dalam larutan kalsium asetat jenuh.
2.      Cara Dispersi
Pembuatan sistem koloid dengan cara dispersi dilakukan dengan memperkecil partikel suspensi yang terlalu besar menjadi partikel koloid, pemecahan partikel-partikel kasar menjadi koloid.
a.    Cara Mekanik
Ukuran partikel suspensi diperkecil dengan cara penggilingan zat padat, dengan menghaluskan butiran besar kemudian diaduk dalam medium pendispersi. Contoh: Gumpalan tawas digiling,dicampurkan ke dalam air akan membentuk koloid dengan kotoran air. Membuat tinta dengan menghaluskan karbon pada    penggiling koloid kemudian didispersikan  dalam air. Membuat sol belerang dengan menghaluskan belerang bersama gula (1:1) pada penggiling koloid, kemudian dilarutkan dalam air, gula       akan larut dan http://sistemkoloid.tripod.com/peptisasi.jpgbelerang menjadi sol.
b.    Cara Peptisasi
Pembuatan koloid dengan cara peptisasi adalah pembuatan koloid dengan menambahkan ion sejenis, sehingga partikel         endapan akan dipecah. Contoh: sol Fe(OH)3 dengan             menambahkan FeCl3. sol NiS dengan menambahkan H2S. Karet dipeptisasi oleh bensin,agar-agar dipeptisasi oleh air, endapan Al(OH)3 dipeptisasi oleh AlCl3.
c.    http://sistemkoloid.tripod.com/busurbredig.jpgCara Busur Bredia/Bredig
Pembuatan koloid dengan cara busur Bredia/Bredig dilakukan            dengan mencelupkan 2 kawat logam (elektroda) yang dialiri listrik ke dalam air, sehingga kawat logam akan membentuk             partikel koloid berupa debu di dalam air.
d.   Cara Ultrasonik
Yaitu penghancuran butiran besar dengan ultrasonik(frekuensi >         20.000Hz) Campuran heterogen. Campuran homogen disebut larutan, contoh larutan gula dalam air. Campuran heterogen dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:      Sistem koloid termasuk dalam bentuk campuran. Campuran terbagi        menjadi 2, yaitu: Suspensi, contoh: pasir dalam air. Dan Koloid, contoh: susu dengan air.

F. Komponen Penyusun Koloid
            1. Fase kontinyu : medium pendispersi jumlahnya lebih banyak.
            2. Fase diskontinyu : medium terdispersi jumlahnya labih banyak.

G. Bentuk Partikel Koloid
            1. Bulatan : misalnya virus, silika.
            2. Batang : misalnya virus.
            3. Piringan : misalnya globulin dalam darah.
            4. Serat : misalnya selulosa.

H. Penggunaan Sistem Koloid
            1. Obat-obatan : salep, krim, minyak ikan.
            2. Makanan : es krim, jelly dan agar-agar.
            3. Kosmetik : hair cream, skin spray, body lotion.
            4. Industri : tinta, cat.
















Evaluasi
1
4
2
11
15
3
8
14
6
9
10
12
13
17
5
18
7
16
19

Mendatar       :

Menurun            :
1. Penggumpalan
2. Koloid setengah kaku
3. Dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas
5. Mengubah partikel sejati menjadi partikel koloid
7.  Reaksi yang disertai bilangan oksidasi
9.  Jenis Koloid
12. Pemisah koloid dari ion-ion pengganngu
14. Contoh aerosol padat
16. Gas yang terdispersi dalam zat cair
19. Contoh proses dialysis dibidang kedokteran

1. Koloid (Yunani)
4. Perancang alat cottrel
6. Dispersi kasar
8. Fase terdispersi padat dalam medium    pendispersi cair
10. Salahsatu cara disperse
11. Istilah yang diutarakan Thomas Graham
13. Sifat koloid
15. Penggumpal lumpul koloidal dalam air sungai
17. Dapat dibuat gel
18. Dispersi Molekuler

Jawaban         :
Mendatar :
Menurun :
1. Koagulasi
2. Gel
3. Aerosol
5. Kondensasi
7. Redoks
9. Emulsi
12. Asap
14. Dialisis
16. Buih
19. Hemodialisis

1. Kolia
4. Frederick
6. Suspensi
8. Sol
10. Mekanisme
11. Koloid
13. Adsorbsi
15. Tawas
17. Sol Liofil
18. Larutan